Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Gelar Pameran Budaya IDKS 2026, Angkat Tema Tradisi Nusantara

Yogyakarta 13 Mei 2026 – Program Studi Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga kembali menghadirkan pameran budaya IDKS pada 13 Mei 2026 yang diselenggarakan di halaman Convention Hall UIN Sunan Kalijaga. Pameran budaya IDKS tahun ini mengangkat tema tentang upacara ritual dan mitos yang bertajuk “Jejak Keajaiban Nusantara: Menelusuri Tradisi Indonesia”. Acara pameran sukses menarik atensi dari para pengunjung, baik dari kalangan dosen, mahasiswa, hingga eksternal.

Pembukaan pameran diawali oleh MC, Marten Prayoga dan Zalfa Rayya Putri Dhatina, lalu dilanjutkan dengan parade budaya yang menampilkan sekelompok mahasiswa mengenakan pakaian adat daerah masing-masing. Acara dilanjutkan dengan sesi potong pita oleh dosen pengampu mata kuliah Informasi dalam Konteks Sosial (IDKS), Dr. Labibah Zain, M.LIS, Wakil Dekan III Fakultas Adab dan Ilmu Budaya Dr. Syamsul Arifin, S.Ag. M.Ag., Dekan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Prof. Dr. Nurdin, S.Ag.,S.S., M.A, , dan Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga Dr. Abdur Rozaki, S.Ag., M.Si., sebagai tanda simbolis diresmikannya acara pameran budaya IDKS 2026. Rangkaian acara berikutnya yaitu, Opening Ceremony Tari Mandau asal Kalimantan yang ditampilkan oleh tiga orang mahasiswa UIN Sunan Kalijaga angkatan 2025 yaitu, Della Rista Hanifah, Azizah Khansa Risti Ufairah, dan Nuraini Catur Siwi. Seusai penampilan, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan oleh para pihak yang terlibat dalam Pameran Budaya IDKS 2026.

Sambutan pertama disampaikan oleh ketua pelaksana, Shafina Choirunnisa. Dalam sambutannya, Shafina menjelaskan bahwa informasi berkaitan erat dengan konteks sosial. Sehingga, informasi perlu diintegrasikan dengan keadaan yang ada di lingkungan sosial masyarakat. Dalam wawancara dengan tim Humas Prodi Ilmu Perpustakaan, Shafina juga menyebutkan bahwa dengan adanya pameran ini, diharapkan pengunjung bisa mendapatkan informasi tentang budaya tradisional agar tetap dapat dilestarikan.

Kemudian dilanjutkan sambutan kedua oleh Dr. Labibah Zain, M.LIS selaku Dosen Pengampu Matakuliah IDKS. Dalam sambutannya, beliau menyoroti tentang salah satu fungsi perpustakaan yang sering diabaikan oleh orang, yaitu preservasi budaya. Hal tersebut tidak banyak disorot oleh masyarakat luas. Dengan adanya pameran budaya IDKS, diharapkan dapat membuktikan bahwa matakuliah IDKS membekali para calon pustakawan untuk bisa mempreservasi budaya. “Diharapkan mahasiswa ilpus (Ilmu Perpustakaan) ketika sudah bekerja di perpustakaan, mereka akan aware terhadap budaya-budaya yang ada di sekitarnya yang kelihatannya dekat, tapi mereka tidak paham. Selain itu, mahasiswa ilpus (Ilmu Perpustakaan) harus mempunyai insting untuk melestarikan budaya yang akan punah lalu kemudian ada inisiatif dari perpustakaan untuk melestarikan budaya tersebut supaya tidak punah. Hal tersebut juga merupakan bagian dari fungsi perpustakaan adalah melestarikan budaya,” ujar Dr. Labibah ketika ditemui oleh tim Humas Prodi Ilmu Perpustakaan.

Beliau juga mengapresiasi ikhtiar dan kerja keras para mahasiswa yang sudah melakukan persiapan pameran sejak empat bulan lalu. Di akhir sambutannya, Dr. Labibah Zain, M.LIS berharap dengan adanya pameran budaya dapat menyadarkan kita tentang pentingnya melestarikan budaya di Indonesia yang nyaris punah. Menurut beliau, setiap tradisi memiliki local wisdom, yang kalau tidak diketahui oleh generasi muda maka maknanya akan hilang. Oleh karena itu, penting untuk melestarikan local wisdom supaya hidup lebih tentram dan lebih bermakna.

Selain itu, Wakil Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Abdur Rozaki, S.Ag., M.Si., turut memberikan apresiasi pada para mahasiswa yang selalu menghadirkan ekspresi budaya dan kreativitas luar biasa. Dalam sambutannya, beliau mempertegas bahwa, banyak orang memaknai Prodi Ilmu Perpustakaan hanya sebagai penjaga buku atau pelayan orang yang ingin membaca buku, tetapi setelah melakukan wawancara dengan beberapa mahasiswa, beliau menyimpulkan bahwa Ilmu Perpustakaan dan mereka yang belajar di dalam nya, sudah memasuki dunia literasi sesungguhnya. Maka dapat dikatakan bahwa, Prodi Ilmu Perpustakaan merupakan prodi yang Islami karena mengamalkan Iqro yang menggetarkan peradaban Islam di awal kemunculan wahyu pertama serta menurut beliau, Iqro merupakan aktivitas yang diekspresikan melalui ruang pengenalan budaya.

Prof. Dr. Abdur Rozaki, S.Ag., M.Si. juga menyoroti terkait etnik di Indonesia yang beragam, artinya di dalam ragam budaya terdapat banyak nilai yang muncul dari gerak, perilaku, kebiasaan, dan ekspresi. Selain itu, beliau mengungkapkan bahwa di era digital, budaya mempunyai ancaman berupa industri digital dan industri algoritma yang di mana jika kita menghilangkan sentuhan-sentuhan budaya tersebut, maka kita akan kehilangan karakter bangsa yang memiliki keragaman budaya. Di akhir sambutannya, Prof. Dr. Abdur Rozaki, S.Ag., M.Si. mengharapkan dengan adanya pameran budaya IDKS, mahasiswa Ilmu Perpustakaan dapat mempertajam nalar, memperkuat empati, serta dapat menelusuri identitas budaya yang banyak dilupakan oleh masyarakat.

Seusai sambutan, acara dilanjutkan dengan penampilan dari perwakilan kelompok mahasiswa. Beberapa di antaranya yaitu Tebu Manten dari Yogyakarta, Badud dari Jawa Barat, dan Wiwitan dari Yogyakarta. Setiap kelompok mahasiswa menyajikan beragam tradisi lokal yang divisualisasi dalam bentuk dekorasi stand yang menarik serta games dan souvenir untuk menarik minat pengunjung. Beberapa stand yang ikut meramaikan Pameran Budaya IDKS 2026 ini yaitu Tradisi Kupatan Jolosutro, Debus Banten, Pek Bung, Mbang Gadhungan, Mreti Tuk Umbul, Kesenian Badud, Bajapuik Baralek, Dandan Kali, Ngeyeuk Sereuh, Tradisi Ruwatan, Saparan Bekakak, Tradisi Wiwitan, dan Tebu Manten.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Ilmu Perpustakaan tidak hanya belajar mengenai budaya sebagai sumber informasi sosial, tetapi juga turut berperan dalam upaya preservasi budaya Indonesia. Pameran IDKS 2026 diharapkan dapat meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga dan melestarikan budaya tradisional Nusantara agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman dan teknologi.

Oleh:

Nabila Izzati Zahirah (niz) & Alfiyya Tsurayya Maulidina (atm)