Menghadapi Era AI, Program Studi Ilmu Perpustakaan Menyelenggarakan Kuliah Tamu mengenai Generative AI dan Evolusi Sumber Rujukan
Yogyakarta, 19 Juni 2026 — Program Studi Ilmu Perpustakaan menyelenggarakan kuliah tamu yang mengangkat tema “Generative AI dan Evolusi Sumber Rujukan Informasi Transformasi Pencarian Pengetahuan di Era Digital”. Dalam acara tersebut, Prodi Ilmu Perpustakaan menghadirkan dua narasumber yaitu, Dr. Sri Rohyanti Zulaikha, S.Ag., SS., M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Sumber Rujukan dan Mohammad Rosyihan Hendrawan, SIP., M.Hum.., Ph.D. selaku alumni. Acara kuliah tamu diselenggarakan di Teatrikal Fakultas Adab dan Ilmu Budaya dan dihadiri oleh jajaran dosen dan mahasiswa Ilmu Perpustakaan.
Acara kuliah tamu diawali oleh moderator, Dr. Puji Lestari, M.Kom, kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh kaprodi Ilmu Perpustakaan, M. Ainul Yaqin, S.Pd. M.Ed. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan terkait perkembangan teknologi informasi. Beliau menjelaskan bahwa terdapat perubahan dalam proses penelusuran informasi dimana masyarakat menggunakan Yahoo sebagai mesin pencari, kemudian munculah Google, dan kini telah berkembang teknologi kecerdasan buatan (AI) yang membantu kita untuk mencari sumber rujukan. Seusai sambutan, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh para narasumber.
Pemaparan materi pertama disampaikan oleh Mohammad Rosyihan Hendrawan, SIP., M.Hum., Ph.D. Menurutnya, topik mengenai generative AI dan sumber rujukan informasi sangat penting untuk dibahas karena dunia pencarian informasi telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Jika pada generasi sebelumnya perpustakaan menjadi sarana utama dalam pencarian untuk memperoleh informasi, perkembangan teknologi kemudian menghadirkan mesin pencari berbasis web, konten digital melalui media sosial, hingga era generative AI dengan konsep conversational search yang memungkinkan pengguna memperoleh jawaban secara langsung.
Dalam lanjutan pemaparan materi, beliau menjelaskan bahwa generative AI merupakan teknologi kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan teks, gambar, audio, video, maupun kode berdasarkan data pelatihan yang dimilikinya. Kemampuan tersebut memungkinkan AI untuk melakukan berbagai tugas, seperti menjawab pertanyaan, membuat konten, menerjemahkan dokumen, hingga merangkum suatu tulisan. Menurutnya, popularitas berbagai aplikasi AI saat ini tidak terlepas dari kebutuhan pengguna yang menginginkan jawaban secara cepat dan langsung tanpa harus melalui proses pencarian informasi yang panjang. Di tengah perkembangan tersebut, mahasiswa Ilmu Perpustakaan diharapkan dapat memiliki kemampuan literasi AI dan literasi informasi yang baik, berpikir kritis, mengelola data, serta memahami konsep perpustakaan digital.
Selanjutnya pemaparan materi disampaikan oleh narasumber kedua, Dr. Sri Rohyanti Zulaikha, S.Ag., SS., M.Si. Dalam penjelasan nya, beliau memaparkan tiga poin utama yaitu evolusi dan tranformasi sumber rujukan informasi, tantangan baru AI generatif, serta bagaimana seharusnya calon pustakawan bersikap. Menurut penjelasan beliau, Evolusi sumber rujukan informasi terbagi menjadi tiga era. Pada era 1.0, sumber rujukan informasi masih berupa media fisik, berupa buku teks dan ensiklopedia. Lalu beralih ke era 2.0, di mana pada era tersebut mulai berkembang teknologi mesin pencarian, seperti Google dan Wikipedia yang mempermudah kita dalam mencari sumber rujukan. Kemudian memasuki era 3.0 generative AI.
Beliau juga menjelaskan tentang proses transformasi pencarian pengetahuan. Jika dulunya kita menggunakan keyword atau kata kunci dalam mencari sumber rujukan, maka sekarang kita tidak perlu pusing lagi karena telah hadir AI (Artificial Intelligence) yang memudahkan kita untuk mencari sumber rujukan yang dibutuhkan dengan cara prompting atau mitra dialog AI. Selain itu, beliau juga memaparkan terkait tantangan yang muncul akibat adanya interaksi dengan AI yaitu, halusinasi AI dan bias informasi.
Halusinasi AI terjadi ketika AI bekerja berdasarkan probalitas kata bukan pada kebenaran objektif mutlak. AI dapat mengarang rujukan atau referensi ilmiah palsu dengan gaya bahasa yang sangat meyakinkan. Sementara, bias informasi adalah penyimpangan data dari internet ketika proses mengumpulkan atau menginterpretasikan suatu informasi. Selanjutnya, beliau juga menegaskan sikap yang harus dimiliki calon pustakawan yaitu, literasi informasi dan menggunakan AI sebagai asisten cerdas. Tak hanya itu, beliau juga menambahkan tentang kompetensi utama yang dimiliki lulusan ALA's (American Library Association) yaitu, Information resource, Reference and user service, serta Technological knowledge and skill. Diharapkan dengan adanya acara kuliah tamu, mahasiswa Ilmu Perpustakaan dapat menambah wawasan sekaligus memperdalam kompetensi yang selaras dengan perkembangan zaman.
Oleh:
Alfiyya Tsurayya Maulidina (atm) , M. Azky Fuadi Z A (afz)