Jejak Digital, Manifestasi Kepribadian

Dengan kemudahan yang ditawarkan oleh gawai pintar (smart phone) membuat manusia meninggalkan jejak-jejak digital yang luar biasa banyak, terutama di media sosial (medsos). Dengan menelisik jejak digital tersebut kiranya kepribadian seseorang bisa diketahui. Konon, di negara barat hal semacam ini sudah lazim dilakukan terutama sebagai salah satu instrumen penilaian kepribadian ketika seseorang melamar pekerjaan. Seseorang dengan kepribadian yang positif akan cenderung membagikan pesan-pesan yang positif dan penuh inspirasi, begitu juga sebaliknya seseorang dengan kepribadian yang negatif cenderung membagikan pesan yang kontraproduktif dan sensasional.
Menariknya pelbagai fitur medsos dan terbebasnya ruang maya dari sekat-sekat formal membuat warganet nyaris ingin membagikan apa saja. Hal tersebut seperti pisau bermata dua, bisa menjadi peluang sekaligus menjadi tantangan. Sebagai warganet yang cerdas maka peluang dan tantangan tersebut harus disikapi secara bijak.
Peluang dengan mudahnya bersosialisasi melalui medsos ialah meningkatnya produktivitas pekerjaan atas karena efektivitas dan efisiensi komunikasi. Medsos semacam facebook, twitter, Instagram, dan sebagainya menembus batas teritorial yang artinya seseorang dari belahan bumi yang lain sekalipun berpotensi mengetahui apa yang kita bagikan. Jika hal tersebut dimanfaatkan untuk sektor yang produktif, misal untuk memulai berwirausaha maka medsos akan menjadi media yang sangat efektif dan efisien untuk melakukan promosi.
Di samping kemudahan yang ditawarkan medsos, tentu di sisi lain terdapat tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah masalah privasi yang kini seakan menjadi barang murah. Manusia seperti menjadi sosok yang tidak memiliki privasi karena tuntutan dan kebutuhan akan pengakuan di ruang yang maya. Fenomena tersebut dibuktikan dengan maraknya hal-hal kontroversial di medsos yang kemudian viral.
Kebutuhan akan pengakuan di dunia maya tersebut kemudian membuat dunia maya terasa sanga nyata, dan orang yang di dalamnya berlaku seolah tengah berada di dunia nyata. Dan semakin kesini, intervensi dunia maya terhadap dunia nyata kian terasa. Seseorang harus sangat berhati-hati dalam meninggalkan jejak digitalnya karena intervensi tersebut merambah ke hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
Sebagai contoh, memanasnya suhu politik pada musim pemilihan kepala daerah (pilkada) atau pemilihan umum (pemilu) lainnya juga tak luput menjadi lahan maraknya praktik penguakan jejak digital. Tidak jarang, medsos digunakan untuk menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian guna mendongkrak atau justru menjatuhkan pasangan calon tertentu Jejak digital yang telanjur terekam oleh sistem memang tidak bisa berbohong. Di era digital ini, menggunakan jejak digital untuk menyerang balik lawan politik sudah bukan menjadi hal yang tabu.
Selain itu, masalah keamanan data juga menjadi tantangan di era digital ini. Jika dikaitkan dengan masalah jejak digital, maka sebaiknya warganet mampu memilih dan memilah apa saja yang akan mereka bagikan di medsos karena hal tersebut sangat mungkin disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Himbauan tersebut terlebih ditujukan kepada tokoh-tokoh berpengaruh seperti politisi, ulama, dan tokoh-tokoh lainnya yang kini mayoritas sudah memiliki akun medsos pribadi. Sama seperti perannya di dunia nyata, akun dari tokoh-tokoh di atas juga memiliki pengaruh di media sosial untuk mengintervensi opini publik.
Meskipun berada di ruang siber, medsos tetap memiliki batasan-batasan tertentu terutama ketika hal tersebut menyangkut kepentingan orang lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa medsos adalah manifestasi dari kepribadian seseorang, sehingga etika dan tata karma dalam berkomunikasi ketika berkomunikasi di dunia nyata juga harus diimplementasikan di dunia maya. Jika medsos tidak digunakan secara bijak, alih-alih bermanfaat medsos justru bisa mendatangkan celaka. Oleh karena itu meninggalkan jejak digital yang baik bisa dibilang sebagai upaya untuk menyelamatkan seseorang di masa yang akan datang.

Ditulis oleh: Thoriq Tri Prabowo (Dosen Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga)

Artikel pernah dimuat di Rubrik Opini, Bali Post edisi Kamis, 16 Agustus 2018.

Bali Post edisi Kamis, 16 Agustus 2018

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler