Literasi Digital Perpustakaan di Bangladesh India

International Talks : Visiting International Librarians #9
IP.UIN-SUKA.AC.ID-International Talks adalah suatu acara yang rutin diadakan oleh Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan mengundang banyak speaker dan narasumber dari berbagai negara yang mumpuni di bidang kepustakaan untuk membicarakan dan sharing terkait masalah – masalah maupun teknologi yang dikembangkan dalam dunia perpustakaan.
Seri ke-9 International Talks kali ini mengusung topik LIS dan MIL di Bangladesh, India yang dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 15 September 2021 hasil kerjasama Perpustakaan UIN Sunan Kaligaja Yogyakarta dengan Special Libraries Association (SLA). Prodi Ilmu Perpustakaan memberikan kontribusi dalam acara ini. Salah satu dosen prodi IP menjadi moderator, yakni ibu Marwiyah, S.Ag., S.IP., M.LIS. Selain itu, MC merupakan mahasiswa prodi IP angkatan 2019, yakni Ananda Dwi Putri.
Dr. Dillara Begum, seorang professor dan ketua Departemen Studi Lingkungan Dan Manajemen Perpustakaan di East West University Bangladesh sebagai speaker dalam acara ini Menyampaikan materinya yang berjudul Media and Information Literacy: Responsibilities of LIS Professional (Literasi Media dan Informasi: Tanggung Jawab Profesional LIS).
Dalam materinya Dr. Dillara Begum menyampaikan bahwa situasi seperti apa yang mereka hadapi di Bangladesh dalam masa pandemik seperti ini dan apa saja peran LIS dalam mengejar target media literasi informasi dari informal, menjadi inisiatif non-formal. Nah, dalam kesempatan ini beliau mencoba menerangkan apa saja kesulitan yang mereka hadapi dan bagaimana cara mengatasi kesulitan – kesulitan tersebut.
Dalam hal ini Pemerintah India telah mencoba untuk melakukan yang terbaik untuk mengatasi itu semua, mottonya adalah “membuat negara itu ter-digitalisasi” dengan slogannya yaitu “Digital Bangladesh”. Dalam masa pandemik covid-19 seperti ini masalah yang dihadapi bukan hanya fokus dalam memerangi virus tetapi juga harus waspada dalam menghadapi infodemik (informasi pandemik) yang ternyata dalam penyebarannya lebih cepat daripada virus itu sendiri.
Tentu hal ini bukanlah suatu hal sepele terlebih menyangkut nyawa banyak orang. Informasi tentang virus itu sendiri harus dikaji kebenarannya untuk kemudian diserap sebagai informasi dan disebarkan kembali kepada banyak orang. Solusinya adalah kita harus menjadi orang yang melek akan media informasi, artinya kita tidak dapat bertindak jauh sebelum memastikan kebenarannya memalui sumber yang terpercaya.
Lalu bagaimana masalah yang ada dalam perpustakaan itu sendiri? Lock down dan pembatasan kegiatan sosial masih menjadi penghambat para user untuk pergi ke perpustakaan. Lalu dengan adanya masalah ini para professional LIS dan MIL harus menemukan cara dengan memanfaatkan teknologi yang mumpuni agar dapat mengakses, menggabungkan, dan mengitegrasikan layanan perpustakaan yang dapat diakses dari rumah dan tak perlu datang ke perpustakaan secara langsung.
Perpustakaan harus dan perlu tetap berjalan untuk menunjang dan memenuhi informasi pendidikan maupun sosial pada masyarakat, di abad ke-21 satu ini perpustakaan bukan hanya sebuah tempat dengan banyak koleksi buku, tapi juga tempat untuk berkolaborasi, pusat informasi sosial, tempat untuk berkreativitas serta tempat untuk mengintegrasikan lingkungan informasi fisik dan virtual
Professional LIS bekerja sebagai agen perubahan untuk menciptakan ide-ide baru, membangun hubungan, dan memberikan keterlibatan komunitas yang berkelanjutan. Bekerja sebagai fasilitator, edukator dan konsultan dalam mengatasi masalah yang ada dalam layanan perpustakaan. Generasi penerus pustakawan yang akan menggantikan posisi hebat ini harus mulai memikirkan dan mengkaji apa sebenarnya yang menjadi peran mereka seagai pustakawan dan peran sebagai Professional LIS agar kedepannya dunia perpustakaan semakin maju dan berkembang. [Nun]