Arsitek Informasi Di Era Digital: 5 Skill Wajib Lulusan Perpustakaan Agar Dilirik Instansi Bergengsi

Kalau cuma mengatur 100 buku semua orang bisa. Tapi kalau jumlahnya jutaan dan formatnya beragam, disitulah ilmu kita benar-benar bekerja.”

Pernyataan ini disampaikan Ibu Dr. Labibah, MLIS., dosen Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga dalam wawancara, yang sekaligus menegaskan bahwa Ilmu Perpustakaan bukan sekedar tentang buku. Lebih dari itu bidang ini adalah tentang mengelola pengetahuan dalam bentuk cetak, elektronik, hingga digital. Di era banjir informasi seperti sekarang, peran lulusan Ilmu Perpustakaan justru semakin penting.Mereka bukan hanya menyimpan informasi, tetapi memastikan informasi tersebut dapat ditemukan kembali, dipahami, dan dimanfaatkan dengan tepat.

“Kalau orang langsung mencari sendiri tanpa sistem, itu akan rumit. Disinilah peran kita yaitu mengemas informasi agar lebih mudah diakses dan lebih terpercaya,” jelas beliau.

Keunikan Ilmu Perpustakaan bukan buku, tapi sistem pengetahuan. Menurut Ibu Labibah,keunikan jurusan ini terletak pada kemampuannya dalam membangun sistem. Informasi hari ini tersebar dimana-dimana terutama diruang digital. Namun tanpa pengelolaan yang sistematis, informasi tersebut akan sulit ditemukan kembali.

Beliau menekankan beberapa keterampilan utama yang harus dimiliki mahasiswa agar siap menghadapi dunia kerja, yaitu:

  • Sistem Temu Kembali Informasi

Temu kembali informasi adalah inti dari Ilmu Perpustakaan. Mahasiswa dilatih untuk mengelola informasi dalam jumlah besar dan berbagai format, lalu menyusunnya dalam sistem yang memudahkan pencarian. “Kalau informasinya ribuan bahkan jutaan tanpa sistem itu akan sangat sulit ditemukan,” jelas beliau.

  • Interpersonal & Communication Skill

Tidak hanya bekerja dibalik meja, pustakawan juga harus bisa menjelaskan informasi ke masyarakat bahkan ke orang yang tidak punya latar belakang yang sama.Kemampuan ini termasuk lisan dan tulisan termasuk bagaimana menyederhanakan informasi yang kompleks agar lebih mudah dipahami.

  • Literasi Informasi: Saring sebelum sharing

Di tengah maraknya hoaks, kemampuan memilah informasi menjadi sangat penting. Ibu Labibah menekankan pentingnya verifikasi: mulai dari mengecek penulis, sumber, hingga memahami biar diri sendiri. “Kita tidak boleh langsung percaya,harus dicek dulu autho-rnya siapa, sumbernya valid atau tidak,” ujarnya.

  • Adaptabilitas Teknologi (IT & Lifelong Learning)

Ilmu Perpustakaan sangat erat kaitannya dengan teknologi mahasiswa dituntut untuk memahami database, sistem informasi hingga perkembangan AI. Namun yang lebih penting adalah kemampuan untuk terus belajar.“Ilmu itu akan terus berkembang, kalau hanya mengandalkan yang diajarkan dikampus, nanti akan tertinggal,” tegas Ibu Labibah.

  • Skill Riset & Analisis Pengguna

Kemampuan riset menjadi dasar dalam pengembangan layanan informasi. “Kita harus tahu sebenarnya pengguna itu butuh apa,dari situ baru kita bisa menyediakan solusi,” jelasnya. Melalui user analysis,pustakawan dapat merancang layanan yang relevan dan tepat sasaran.

Dalam wawancara Bu Labibah juga menyoroti skill yang sering dianggap sepele, seperti perencanaan ( planning) dan pembuatan SOP. Banyak orang langsung fokus pada pengolahan buku padahal tanpa perencanaan yang jelas, pengelolaan tidak akan berjalan optimal. “Harusnya mulai dari planningdulu,misal lima tahun kedepan mau seperti apa. Baru setelah itu teknisnya,” ungkapnya.Menurut beliau, setiap instansi itu butuh pusat informasi dan itu membutuhkan pustakawan. Bahkan bagi mahasiswa dengan kemampuan tambahan seperti bahasa asing, aksara Jawa, atau kajian keislaman, peluangnya bisa sampai ke riset inetrnasional.

Pesan beliau untuk mahasiswa, “belajarlah dengan hati, kalau hanya untuk nilai nanti juga lupa, tapi kalau dipahami maka itu akan dipakai dan berguna”. Ia juga mengingatkan agar mahasiswa aktif mencari peluang, membangun personal branding, dan tidak hanya bergantung pada apa yang diajarkan dikelas.

Penulis: Virna Dwi Septira(vrn)