Membangun Smart Library Ecosystem: Integrasi AI dan Human Touch dalam Layanan Informasi
HMPS Ilmu Perpustakaan adakan seminar bertema Integrasi AI dan Human-Touch
Yogyakarta, 16 April 2026 — Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu PerpustakaanUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan acara seminar bertema “Smart Library Ecosystem: Integritas Al dan Human-Touch dalam Otomasi Layanan Informasi”. Dalam seminar tersebut, HMPS Ilmu Perpustakaan menghadirkan Faradina Harumi, S.Kom., M.Eng., seorang profesional bidang teknologi informasi di Dinas Komunikasi dan Informasi DIY, sebagai narasumber, dan Zakia Faradiba, mahasiswa Ilmu Perpustakaan, sebagai moderator. Seminar ini berlangsung di Ruang Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan dihadiri oleh jajaran dosen serta mahasiswa Ilmu Perpustakaan.
Acara seminar diawali oleh moderator Zakia Faradiba, kemudian dilanjutkan sambutan pertama yang disampaikan oleh Ketua Panitia, Septi Nugrahaeni. Dalam sambutannya, Septi menegaskan bahwa kegiatan seminar tidak sekadar memenuhi program kerja, melainkan menjadi jembatan wawasan baru mengenai bagaimana ekosistem perpustakaan dapat berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan diimplementasikan demi manfaat berkelanjutan. Sambutan kedua dilanjutkan oleh Ketua HMPS Ilmu Perpustakaan, Ivan Maulana Saputra, yang mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan ini. Selanjutnya, Kaprodi Ilmu Perpustakaan, Muhammad Ainul Yaqin, S.Pd. M.Ed.menekankan bahwa tema seminar kali ini sangat penting untuk dikaji karena masih terdapat kesalahpahaman di masyarakat terhadap ilmu perpustakaan. Oleh karena itu, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk meluruskan perspektif tersebut. Dekan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Prof. Dr. Nurdin, S.Ag., S.S., M.A., dalam sambutannya mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan ruang dan fasilitas yang telah disediakan oleh universitas untuk berkegiatan dan mengembangkan kompetensi. Selain itu, ia juga mengusulkan agar mahasiswa bekerja sama dengan program studi dalam merekomendasikan dosen sebagai pemateri pada kegiatan selanjutnya, sehingga dosen bisa mengarahkan mahasiswanya untuk menghadiri kegiatan tersebut.
Dalam sesi pemaparan materi, narasumber menjelaskan konsep smart library ecosystemdengan menyoroti masalah dasar terkait bagaimana cara manusia dan kecerdasan buatan berkolaborasi dalam membentuk ekosistem cerdas, serta bagaimana etikanya. Konsep smart dalam dunia perpustakaan tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi, tetapi harus bertumpu pada empat pilar utama, yaitu technology, information value, sustainability, dan public benefit.Narasumber menegaskan bahwa perpustakaan yang memiliki data lengkap tidak dapat dikategorikan sebagai smart libraryapabila belum mengintegrasikan teknologi untuk memudahkan berbagai kegiatan, memberikan manfaat jangka panjang bagi pengguna dan pustakawan, serta beradaptasi dengan perkembangan zaman. Perkembangan teknologi saat ini menghadirkan tantangan berupa ledakan informasi, ekspektasi pengguna yang terus meningkat, serta tuntutan akuntabilitas publik, Oleh karena itu, perpustakaan diharapkan mampu memberikan layanan yang efisien serta terpercaya.
Ekosistem perpustakaan terdiri atas beberapa elemen yang saling berkaitan, mulai dari layanan, teknologi, koleksi, ruang, perlengkapan, metadata, hingga manusia sebagai entitas utama. Seiring dengan perkembangan teknologi, Artificial Intelligence(AI) hadir sebagai alat untuk mempermudah pekerjaan manusia, bukan untuk menggantikan seluruh proses pekerjaan secara otomatis tanpa kendali manusia. Dalam layanan perpustakaan, AI dapat membantu pengguna dalam proses pencarian informasi melalui sistem katalog dan berperan sebagai chatbot yang mampu mengatasi keterbatasan sumber daya manusia. Selain itu, AI juga dapat difungsikan untuk meringkas dokumen, auto taggingpada koleksi, serta analisis data dan statistik guna meningkatkan kualitas layanan dan pengambilan keputusan. Namun demikian, penggunaan AI harus selalu berlandaskan pada prinsip etika. Meskipun mampu meningkatkan efisiensi, peran human touchtidak akan pernah tergantikan, terutama dalam memastikan akurasi informasi, melakukan verifikasi, serta menghadirkan empati dalam layanan kepada pengguna. Dalam praktiknya, AI tidak memiliki hubungan emosional dengan manusia, sehingga peran manusia tetap diperlukan dalam menyesuaikan layanan dengan kebutuhan pengguna.
Acara kemudian berlanjut ke sesi tanya jawab. Salah satu peserta mengajukan pertanyaan terkait batas ideal penggunaan AI yang dikolaborasikan dengan human touchdi perpustakaan agar peran pustakawan di masa depan tidak tergantikan. Menanggapi hal tersebut, narasumber menjelaskan bahwa hubungan AI dan manusia bersifat kolaboratif, sehingga manusia harus selalu melakukan cross confirmationdari berbagai sumber serta harus mampu mengurasi hasil AI. Selain itu, narasumber juga menambahkan salah satu alasan peran pustakawan masih dapat bertahan ialah karena jawaban AI bersifat templat dan tidak bisa membedakan apakah dia sedang berkomunikasi dengan anak-anak, orang tua, atau siapa pun itu. Peserta lain mengajukan pertanyaan terkait cara menyusun prompt yang efektif agar AI dapat memberikan jawaban yang sesuai dengan kebutuhan. Narasumber memberikan beberapa tip terkait hal tersebut, yaitu dengan membangun pertanyaan berdasarkan tujuan, menyertakan sumber data yang relevan, serta memastikan pertanyaan telah mengandung unsur 5W + 1H.
Acara seminar diharapkan tidak hanya menjadi jembatan untuk mendapatkan perspektif baru, melainkan juga sebagai wadah pembelajaran bagi mahasiswa Ilmu Perpustakaanagar menggunakan teknologi secara bijak. Melalui kegiatan seminar, mahasiswa diajak untuk memanfaatkan AI sebagai alat bantu mengelola informasi. Selain itu, kemampuan berpikir kritis sangat penting dimiliki oleh mahasiswa sehingga diharapkan mampu meningkatkan literasi digital dalam menghadapi arus informasi yang kompleks.
Oleh: