Ilmu Perpustakaan, Apa Benar Cuma Tentang Menata Buku?
Buku wajib mahasiswa Ilmu Perpustakaan! Source: https://www.lisedunetwork.com/advantages-disadvantages-ddc-dewey-decimal-classi
"Jurusan Ilmu Perpustakaan mah cuma belajar menata buku dan kerjanya hanya jadi pustakawan saja". Hingga saat ini, masih ada beberapa orang yang menganggap jurusan Ilmu Perpustakaan itu tidak keren dan cenderung kaku. Tak jarang beberapa dari mereka cenderung meremehkan atau bahkan menghindari masuk jurusan Ilmu Perpustakaan. Selain itu adanya anggapan bahwa lulusan Ilmu Perpustakaan hanya bekerja sebagai seorang pustakawan turut memperkuat citra dari jurusan Ilmu Perpustakaan yang pekerjaannya tidak jauh dari buku.
Dibandingkan dengan jurusan lain, jurusan ini memang dianggap “kurang beken”, “kurang keren”, bahkan tak jarang ada yang berkata, “Untuk apa kuliah kalau kerjanya cuma nata buku?” Stereotip ini cenderung muncul dari mereka-mereka yang tidak begitu mengenal apa itu jurusan Ilmu Perpustakaan dan apa saja yang dipelajari. Namun, kenyataannya, apa benar keseharian mahasiswa Ilmu Perpustakaan memang hanya berkutat di “menata buku?”
“Kita memang belajar katalogisasi dan klasifikasi, yang fungsinya untuk ngatur buku dan bahan pustaka lainnya. Kalau klasifikasi itu, kita pelajarin buku DDC yang berjilid-jilid, isinya tentang nomor2 kode yang digunakan untuk ngelompokin bahan pustaka berdasarkan topik/subjeknya. Kalau untuk katalogisasi, kita gak cuma belajar katalog manual aja, tapi juga katalog digital, karena sekarang kan eranya digital. Jadi kita juga belajar pake sistem otomasi perpustakaan, seperti SLiMS dan Inlislite. Kita juga belajar ngoding, jaringan komputer, sama basis data, karena itu penting nanti kalo kita ngelola website otomasi perpustakaan,” ucap Nabilah, mahasiswa semester 6. Selama kuliah di jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ia juga mempelajari teknologi informasi karena perpustakaan juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar bisa menjadi sumber informasi yang efektif bagi masyarakat.
Menanggapi stereotip yang mengatakan “jurusan Ilmu Perpustakaan cuma nata buku doang”, Nabilah hanya tertawa mendengarnya. “Yang dipelajarin macem-macem, tentu aja gak cuma nata buku doang. Jadi kalau ada yang bilang jurusan Ilpus itu cuma nata buku doang, itu sih belum tau aja, hehehe.”
Alfiyya, mahasiswa semester 2, juga mengaku takjub dengan porsi mata kuliah IT di Ilmu Perpustakaan yang ternyata lebih banyak dari yang diduganya. “Semenjak menjadi anak Ilpus (Ilmu Perpustakaan), pandangan saya tentang jurusan ini berubah. Dari yang awalnya saya mengira bahwa jurusan ini porsi belajar IT-nya sedikit, tapi ternyata justru lebih banyak. Hal lain yang tidak pernah terpikir oleh saya yaitu di jurusan ini juga belajar tentang perkabelan dan aksara Jawa.”
Ya, jurusan Ilmu Perpustakaan juga mempelajari bagaimana mengelola naskah-naskah kuno , karena itu pembelajaran terkait aksara daerah menjadi penting. Lulusan Ilmu Perpustakaan memang tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi pustakawan, tetapi juga kurator yang bertugas menangani manuskrip dan benda bersejarah lainnya di museum atau galeri. Hal ini membuktikan peluang kerja Ilmu Perpustakaan yang beragam.
Selain pustakawan dan kurator, menurut Alfiyya, bidang arsip, IT, dan creative marketing juga bisa menjadi pilihan kerja lulusan Ilmu Perpustakaan. “Menurutku prospek kerja dari jurusan Ilpus cukup luas, bisa kerja di bidang IT, arsip, atau bidang creative & marketing. ‘Kok bisa kerja di bidang marketing juga?’ Ya karena di jurusan ini kita diajari cara mempromosikan layanan perpustakaan supaya orang bisa betah dan mau datang lagi ke perpustakaan. Jadi prospek kerja yang ditawarkan di jurusan ini cukup relevan dengan dunia kerja saat ini,” ujarnya.
Azizah Khansa, mahasiswa semester 2, mengungkapkan hal yang sama terkait mata kuliah di Ilmu Perpustakaan yang beragam dan peluang kerjanya yang juga cukup luas. “Ilmu Perpustakaan surprisingly, jurusan ini ga cuma belajar tentang buku & perpustakaan. Tapi juga belajar tentang manajemen database, kearsipan digital, sampe coding dikit-dikit buat sistem informasi! Jujur seru bgt karena kita dilatih jadi 'arsitek informasi'. Kita belajar gimana caranya ngelola data raksasa biar rapi dan gampang dicari (temu kembali informasi). Jadi gak cuma duduk diem nungguin rak buku, tapi lebih ke data management sama literasi informasi. Prospek kerjanya juga luas, bisa jadi Knowledge Manager atau Document Controller di perusahaan besar, ga melulu di perpus sekolah,” jelasnya.
Menurut Aura Izzani, mahasiswa semester 2, tidak banyak orang yang tahu kalau jurusan Ilmu Perpustakaan sebenarnya cukup kompleks, justru cenderung dianggap sebagai jurusan gampang dan santai. “Intinya sblm masuk Ilpus tuh katanya seru, jurusannya santai, makanya banyak orang pada gampangin. Setelah masuk, ternyata ga sesantai itu, karena matkulnya kompleks dan banyak, tapi enak juga karena bisa mempelajari berbagai hal,” ujarnya. Baginya, Ilmu Perpustakaan adalah jurusan yang menantang tetapi membuatnya mengeksplorasi banyak hal baru.
Mahasiswa lainnya, Virna, mengaku ragu saat pertama kali memilih jurusan Ilmu Perpustakaan karena stereotip yang sering didengarnya. Namun, setelah merasakan sendiri bangku perkuliahan di Ilmu Perpustakaan, Virna menyadari kalau tidak semua stereotip itu terbukti benar. “Kalau diingat-ingat, memilih Ilmu Perpustakaan itu awalnya bukan keputusan yang langsung bikin aku yakin. Ada rasa ragu, takut salah jurusan, dan khawatir dengan anggapan orang yang sering mengira prodi ini cuma soal buku dan ruang sunyi. Tapi setelah menjalani perkuliahan, aku mulai melihat sisi lain yang sebelumnya nggak terpikirkan.”
Menurutnya, apa yang dipelajari di Ilmu Perpustakaan sangat penting di zaman sekarang mengingat banyaknya informasi yang beredar dengan cepat. “Di Ilmu Perpustakaan, aku belajar bahwa informasi itu punya nilai besar dan perlu dikelola dengan serius. Kami diajak memahami bagaimana informasi disusun, disaring, dan disajikan supaya bisa bermanfaat dan bertanggung jawab. Menurutku, ini jadi hal yang relevan di tengah banjir informasi seperti sekarang.”
“Walaupun prosesnya nggak selalu mudah—ada tugas yang detail, butuh ketelitian tinggi, dan kesabaran ekstra—justru dari situ aku merasa berkembang. Ilmu Perpustakaan pelan-pelan membentuk cara berpikirku jadi lebih rapi, kritis, dan hati-hati dalam mengambil informasi. Pada akhirnya, aku sampai pada kesimpulan bahwa prodi ini mungkin terlihat sederhana dari luar, tapi punya peran penting dan nilai yang besar, terutama bagi dunia pendidikan dan pengelolaan pengetahuan,” tambah Virna yang kini sudah memasuki semester 4 ini.
Ilmu Perpustakaan mempelajari banyak hal tentang pengelolaan informasi, mulai dari manajemen informasi, temu kembali informasi, pengelolaan koleksi digital, sistem katalogisasi, otomatisasi perpustakaan, hingga bagaimana mengelola repositori ilmiah. Lulusan Ilmu Perpustakaan juga memiliki peluang karier yang beragam, seperti pustakawan, arsiparis, kurator, knowledge manager, document controller, creative marketing, dan lainnya. Karena itu, jurusan Ilmu Perpustakaan sangat dibutuhkan, terlebih di tengah tuntutan untuk mengelola informasi di era digital seperti sekarang.
Oleh: Nabilah Izzati Zahirah (niz) & Alfiyya Tsurayya Maulidina (atm)