Jejak Literasi di Karangbendo: Kala Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga "Menyulap" Perpustakaan Menjadi Jantung Sekolah

YOGYAKARTA – Ada yang berbeda di wajah SD Muhammadiyah Karangbendo pagi itu. Gelak tawa siswa, riuhnya sorak sorai di GOR, hingga deretan buku yang kini tertata rapi menjadi saksi bisu berakhirnya sebuah perjalanan dedikasi.

Pada Sabtu, 7 Februari 2026, Organisasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan (OMIP) UIN Sunan Kalijaga secara resmi menutup agenda tahunan mereka, Bakti Pustaka XI. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni singkat, melainkan puncak dari kerja keras pengolahan perpustakaan yang telah dimulai sejak 10 Januari lalu.

Mengangkat tema yang sarat makna, "With Great Literacy Comes Great Responsibility", Bakti Pustaka tahun ini menekankan bahwa literasi bukan hanya soal kemampuan membaca, melainkan tanggung jawab besar untuk mencerdaskan bangsa.

Acara puncak ini dihadiri oleh berbagai elemen penting, mulai dari Ketua PCM Umbulharjo yang memberikan sambutan hangat, perwakilan HMPS, Asosiasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan (ALUS), para demisioner, alumni, hingga Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO).

Kemeriahan pecah saat perwakilan peserta didik menampilkan pentas seni yang memukau sebagai pembuka acara. Suasana di GOR SD Muhammadiyah Karangbendo berubah menjadi panggung kreativitas. Tak berhenti di sana, berbagai perlombaan seru turut membakar semangat para siswa, di antaranya lomba ketangkasan (joget balon dan estafet air), lomba kreativitas (mewarnai dan membaca puisi), serta lomba ketajaman berpikir (tebak gambar).

Puncak acara ditutup dengan sesi dongeng yang menghipnotis seluruh siswa, membawa mereka masuk ke dunia imajinasi sekaligus menanamkan nilai-nilai moral. Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Karangbendo, Hartini, S.Ag., Gr., tidak dapat menyembunyikan rasa harunya. Beliau menyampaikan apresiasi mendalam kepada tim mahasiswa yang telah mendedikasikan waktu hampir satu bulan untuk membenahi perpustakaan sekolah.

"Kami sangat berterima kasih atas dedikasi teman-teman mahasiswa. Perpustakaan kami kini tidak hanya rapi secara sistem, tapi juga kembali hidup sebagai jantung literasi bagi anak-anak kami," ungkapnya dengan penuh syukur.

Oleh: Muhammad Annas Mufid (mfd)